FisTx Indonesia

Recirculating Aquaculture System (RAS) adalah sebuah sistem produksi perikanan yang mengolah air yang telah digunakan agar memenuhi syarat kualitas air untuk digunakan kembali sebagai media budidaya. Teknologi RAS merupakan salah satu pilihan teknologi yang digunakan untuk kegiatan perikanan secara intensif. Aplikasi dan pengembangan teknologi RAS telah banyak dilakukan dibeberapa jenis hewan air seperti Sidat, Nila, Udang, Lobster, Kepiting, dll.

Penggunaan RAS secara intensif dapat mengurangi konsumsi air dan konsentrasi nutrien melalui perbaikan dan pengembangan teknologi secara berkelanjutan. RAS dapat digunakan untuk mengontrol beberapa parameter kualitas air penting seperti kandungan oksigen terlarut, karbondioksida, amoniak, nitrit, nitrat, pH, salinitas dan padatan tersuspensi. Hal ini memungkinkan terciptanya kondisi pemeliharaan yang baik untuk pertumbuhan dan pemanfaatan pakan yang lebih optimal.

Filter yang digunakan tersusun dari beberapa media yang terdiri dari batu bio crystal, koral, zeolit dan karbon aktif.

Batu koral pada filter yang mengandung kapur berfungsi untuk mempertahankan pH selama proses pemeliharaan. Filter fisik digunakan untuk memisahkan padatan dari air dengan cara menangkap atau menyaring. Selain itu, fungsi dari filter fisik adalah untuk menurunkan turbiditas di air yang disebabkan oleh mikroorganisme dan partikel lain, untuk menurunkan tingkat koloid organik, dan untuk menyingkirkan detritus dari filter biologi. Meskipun filter fisik dapat memisahkan partikel tersuspensi secara efisien namun tidak efektif  untuk memisahkan partikel-partikel yang terlarut.

Karbon aktif berfungsi sebagai filter kimiawi. Karbon aktif digunakan untuk menyaring dan menghilangkan klorin, sedimen, bau dan senyawa organik Volatile Organic Compounds (VOC) dari air. Luas permukaan total karbon aktif mempengaruhi kapasitas adsorpsi total sehingga meningkatkan efektivitas dalam dalam penyisihan senyawa organik dalam air buangan.

Zeolit berfungsi sebagai filter kimia. Zeolit bekerja dengan memanfaatkan kemampuan pertukaran ion. Zeolit adalah penukar kation yang efektif, yang memiliki nilai kemampuan tukar kation (KTK) sebesar 200 500 cmolc/kg. Terdapat berbagai macam zeolit dengan klinoptilolit memiliki afinitas yang tinggi terhadap amoiak dan telah berhasil digunakan sebagai pembersih amoniak pada sistem akuakultur air tawar. Ketika air buangan melewati zat ini, ion-ion tertentu pada air buangan tersebut melakukan pertukaran dengan ion-ion pada zat tersebut, karena memiliki afinitas yang kuat terhadap zat tersebut.

Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik oleh mikroba dan jamur yang terdapat di dalam tanah dan air, yang berasal dari dekomposisi bahan organik (buangan metabolisme, sisa pakan). RAS mengandalkan nitrifikasi untuk mengkonversi amonia dan nitrit yang bersifat toksik menjadi nitrat. Nitrifikasi dapat berlangsung dalam biofilter oleh bakteri nitrifikasi. Kegagalan dalam biofilter dapat menghasilkan amonia atau nitrit yang sangat tinggi, yang keduanya beracun untuk hewan air dan dapat menyebabkan masalah kesehatan, menekan pertumbuhan, dan menyebabkan kematian. Penggunaan biocrystal dimaksudkan sebagai media biofilter, untuk tempat menempelnya bakteri nitrifikasi. Ion nitrat dibentuk oleh oksidasi lengkap dari ion amonium oleh mikroorganisme yang ada di tanah ataupun di dalam air atau akibat dari proses nitrifikasi amonia. Bakteri yang berperan dalam proses nitrifikasi untuk mengubah nitrit menjadi nitrat adalah Nitrobacter. Bakteri tertentu mungkin pula mengubah nitrat menjadi nitrogen bebas (N2) yang dapat terlepas dari sistem sebagai gas. Nitrifikasi adalah oksidasi berurutan amonia menjadi nitrat yang dilakukan oleh dua kelompok bakteri kemoautotrof dalam kondisi aerobik.

Amonia dikonversi menjadi nitrit oleh bakteri Nitrosomas. Nitrit kemudian dikonversi menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobacter. Nitrifikasi menyebabkan kadar amonia dalam air mengalami penurunan, dan konsentrasi nitrat mengalami peningkatan.

Amonia bebas (NH3) yang tidak terionisasi (unionized) bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Amonia lebih toksik saat kandungan oksigen terlarut turun. Konsentrasi sublethal dari NH3 menyebabkan perubahan patologi pada organ dan membran ikan (Boyd dan Tucker, 1998). Pada crustacea, amonia menyumbang 60% dari total nitrogen yang dieksresikan. Tingkat ekskresi dipengaruhi oleh pakan, temperatur, berat, level nutrien, salinitas, moulting, dan konsentrasi oksigen.

Sumber : Thesiana, L. & Pamungkas, A. 2015. Uji Performansi Teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) terhadap Kondisi Kualitas Air pada Pendederan Lobster Pasir Panulirus homarus. Balitbang KKP. Jakarta.

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Related Post