Mewaspadai Serangan AHPND, Salah Satu Penyakit Yang Paling Kompleks Dalam Budidaya Udang

AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) disebabkan oleh adanya infeksi bakteri Vibrio parahaemolyticus (Vp AHPND) yang menyerang organ pencernaan, yaitu Hepatopankreas, Usus dan lambung (Ng et.all. 2018). Gejalanya antara lain adalah pertumbuhan melambat, saluran pencernaan kosong, hepatopankreas pucat hingga putih, anoreksia dan perubahan pola gerak udang menjadi tidak lincah (Kumar et.all.2021).

Pada fase awal, udang yang terpapar akan mengalami kerusakan pada bagian hepatopancreas dan usus. Untuk memastikan terjangkitnya udang, perlu dilakukan pembedahan dan menghilangkan membrane epitel. Pada fase akut, udang akan mengalami gejala anoreksia yang menyebabkan gerakan udang menjadi pasif. Selain itu, saluran pencernaan juga akan berubah menjadi warna putih yang mengindikasikan kekosongan. Sedangkan pada fase terminal, gejalanya hampir mirip dengan fase akut, namun disertai dengan kerusakan jaringan yang terjadi akibat adanya racun PirAVP dan Pir BVP.

Cara melakukan diagnosa adanya kemungkinan terserangnya AHPND pada udang adalah dengan melakukan pengecekan pada aktivitas udang, yaitu perubahan pola gerak menjadi berputar. Selain itu, juga terjadi kematian mendadak pada stadia larva dan pasca larva yang mencapai >30%. Lainnya adalah munculnya kematian udang dalam jumlah yang cukup tinggi, serta timbulnya kematian pada dasar tambak.

Lingkungan tambak udang dapat terpapar AHPND karena beberapa faktor penunjang, diantaranya padat tebaran dan nilai salinitas yang terlalu tinggi, kualitas air yang buruk atau tidak sesuai dengan nilai optimum serta manajemen dan kualitas pakan yang kurang mumpuni. Paparan AHPND pada tambak dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap hasil panen, oleh karenanya perlu segera dilakukan pencegahan proaktif saat indikasi awal sudah terlihat.

Proses pencegahan dapat dilakukan diantaranya:

  1. Memastikan bahwa kualitas air dalam tambak berada pada batas optimum atau melakukan pemberian probiotik dalam perairan tambak untuk memelihara kualitas air dalam kondisi optimum (Wang et.all. 2020)
  2. Memastikan bahwa induk dari benur yang kita gunakan bebas dari AHPND
  3. Menerapkan biosecurity system serta SOP pencegahan.

Namun, Ketika udang sudah terkena AHPND salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melakukan injeksi haemosianin yang telah diisolasi dan diekstrak dari haemolymph (Boonchuen et. all. 2018).

Reference

Kumar V, Roy S, Behera B.K, Bossier P, Das B.K. Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND): virulence, pathogenesis and mitigation strategies in shrimp Aquaculture. Toxins. 13(524):1-28.

Wang D, Li J, Zhu G, Zhao K, Jiang W, Li H, Wang W, Kumar V, Dong S, Zhu W. et.all.2020. Mechanism of the potential therapeutic candidate Bacillus subtilis BSXE-1601 against shrimp pathogenic vibrios and multifunctional metabolites biosynthetic capability of the strain as predicted by genome analysis. Front Microbial. 11: 25-65.

Ng TH, Lu CW, Lin SS, Chang CC, Tran LH, Chang WC et.all. 2018. The rho signaling pathway mediates the pathogenicity of AHPND causing V. parahaemolyticus in shrimp. Cellular Microbiology. 6:el12849.

Boonchuen P, Jaree P, Tassanakajon A, Somboonwiwat K. 2018. Hemocyanin of Litopenaeus vannamei agglutinates Vibrio parahaemolyticus AHPND (VPAHPND) and neutralizes its toxin. Development and Comparative Immunology.84: 371-381.

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Related Post