Peran Manajemen Perairan Pada Budidaya Udang Vaname

Negara Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang mempunyai potensi perikanan terbesar terutama komoditas udang vaname. Udang vaname mempunyai kontribusi sebanyak 40% dari seluruh hasil perikanan dan perolehan devisa (Hadie 2017). Oleh karena itu system budidaya udang vaname harus dijaga untuk mendapatkan hasil yang optimum.

Salah satu caranya adalah melakukan kontrol kualitas air karena budidaya udang vaname merupakan budidaya organisme akuatik yang membutuhkan air sebagai media pertumbuhannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya udang vaname(Ferreira et.all. 2011). Pengontrolan kualitas air bertujuan mengurangi atau mencegah terserang penyakit, pertumbuhan yang tidak optimal dan tingkat kelangsungan hidup yang rendah.

Pengontrolan kualitas air dapat mempengaruhi penyakit dalam system budidaya, karena penyakit dipengaruhi oleh lingkungan budidaya (air) dimana nilai lingkungan adalah kuadratik dibandingkan faktor yang lain (Rifie 2021). Seperti yang terjadi di Meksiko bahwa suhu yang fluktuatif atau tidak dalam range optimum (hujan) menyebabkan terjadinya kematian udang hingga 80% (Tendencia et all. 2011). Sedangkan di daerah lain, Ketika suhu rendah nafsu makan udang menjadi lebih rendah serta pertumbuhannya tidak optimal (Kumlu et.all. 2010) Proses pengontrolan kualitas air dapat dilakukan secara manual oleh teknisi atau melalui otomatisasi, periode kontrol kualitas air dapat dilakukan berdasarkan jenis parameter (Lugo et.all 2022). Parameter kualitas air yang dikontrol antara lain adalah oksigen terlarut (DO), Ph, salinitas, suhu, nitrit, nitrat, Fe, Mg, kalsium, kalium, alkalinitas, hardness, TAN, PO4, BGA.

Beberapa parameter di atas mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dari udang vaname. Sebagai contoh oksigen terlarut yang tidak optimum dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan pertumbuhan bakteri jahat dan gas beracun keluar dari endapan tambak. Nilai salinitas yang tidak optimum mengakibatkan terganggunya proses osmoregulasi, metabolisme dan ekskresi nitrogen (Urbina and Glover 2015). sedangkan nilai nitrit dan nitrat yang tidak optimum mempengaruhi keberadaan ammonia yang bersifat toksik bagi udang (Rafiqie 2021).

Selain itu suhu yang tidak optimum mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup udang karena suhu akan berpengaruh terhadap penggunaan energi, kandungan lipid serta suhu berperan dalam menjaga system metabolisme pada tubuh udang (Tropea et.all. 2015). Apabila parameter pH tidak dalam range optimum mengakibatkan terganggunya proses osmoregulasi, jumlah sel dalam tubuh udang serta proses metabolisme dan transport oksigen (Maqsood and Benjakul 2011), Ketika Ph dalam perairan mengalami penurunan maka oksigen diserap akan turun.

Hal ini disebabkan karena afinitas pigmen pernafasan berkurang, sehingga udang mengeluarkan energi yang lebih besar untuk proses suplai oksigen dan mengakibatkan berkurangnya energi yang digunkan untuk pertumbuhan. Adanya kontrol kualitas air mampu meningkatkan nilai panen budidaya udang vaname (Ritonga et. all. 2021), karena dengan pengontrolan kualitas air kita dapat menjaga nilai optimum kualitas air sehingga kualitas air dalam tambak stabil.  Apabila manajemen kualitas air telah dilakukan secara optimal maka diharapkan lingkungan tambak sesuai dengan habitat hidup udang vaname sehingga tercipta produktivitas yang optimal pada komoditas udang vaname (Putra dan Manan 2014).

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Related Post