Mengenal SHIV, Virus Baru Yang Dapat Mengancam Komoditas Udang Vaname

Shrimp Haemocyte Iridescent Virus (SHIV) merupakan salah satu jenis virus baru yang berasal dari family iridoviridae dan pertama kali ditemukan di Cina, dengan nilai kematian tinggi terutama pada komoditas udang vaname (Qiu et.all. 2018). Berdasarkan China fishery statistical yearbook 2019 penyakit ini mampu menurunkan annual output udang vaname dari 1.5 million metric ton menjadi 1.3 million metric ton. Pencegahan penyebaran SHIV di Indonesia perlu dilakukan karena dapat menyebabkan peningkatan nilai kematian pada udang vaname terinfeksi virus hingga 80%, yang kemudian dapat memengaruhi perekonomian para petambak (Waikhom D. et.all.2021).

Shrimp Haemocyte Iridescent mempunyai bentuk icosahedral dengan ukuran diameter 150 nm, organ utama yang menjadi sasaran tempat tumbuhnya virus adalah jaringan hematopoietik dan hemosit pada udang vaname. Ketika SHIV telah menginfeksi, ada beberapa ciri yang dapat terlihat pada udang vaname diantaranya warna tubuh berubah menjadi lebih putih pucat, anoreksia dan penurunan nafsu makan, karapas udang lunak, antenna putus, usus kosong, warna pada bagian kepala mengarah ke kuning serta warna hepatopancreas pucat, serta perubahan warna tubuh menjadi kemerahan pada 1/3 udang yang terinfeksi. Pada dasarnya SHIV tidak hanya menyerang udang vaname, namun juga beberapa komoditas lain seperti Giant Freshwater Prawn, Red Swamp Crayfish, Tiger Shrimp, Cladocera, Red Crab, dll (Chen et.all. 2019).

Proses penyebaran SHIV dapat terjadi melalui dua cara yaitu secara vertical dan horizontal. Penyebaran secara vertical dapat terjadi melalui induk yang digunakan atau dapat dikatakan udang yang dibudidayakan telah mempunyai gen SHIV. Sedangkan penyebaran secara horizontal ditularkan melalui lingkungan media yang digunakan dalam proses budidaya, hal ini dapat terjadi karena sumber air yang dipakai sudah terinfeksi SHIV. Proses pencegahan SHIV pada sistem budidaya dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya menerapkan system biosecurity dan melakukan pengontrolan terhadap sistem budidayamengenai pencegahan adanya biota diluar komoditas budidaya untuk masuk ke dalam media budidaya.

SHIV mempunyai tanda-tanda klinis yang hampir mirip dengan AHPND, yaitu hepatopancreas berwarna pucat, usus kosong dan karapas menjadi lunak. Adapun perbedaan tanda infeksi diantara kedua virus adalah udang yang terkena SHIV mengalami antenna putus, sedangkan pada AHPND tidak terjadi antenna putus (Reantaso 2018).

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Related Post