
Membangun Budidaya Udang Berkelanjutan dengan Teknologi Ramah Tambak
Budidaya udang Indonesia berada pada titik refleksi penting. Setelah bertahun-tahun didorong oleh target produksi tinggi dan intensifikasi, semakin jelas bahwa keberhasilan jangka panjang tidak bisa dilepaskan dari kesehatan ekosistem tambak itu sendiri. Dalam konteks inilah, pendekatan kembali ke fitrah—menempatkan ekologi sebagai fondasi utama produksi—menjadi semakin relevan.
Dari sudut pandang keberlanjutan, paradigma baru budidaya udang perlu dibangun bukan semata untuk mengejar tonase panen, melainkan untuk memastikan tambak mampu berproduksi secara konsisten, stabil, dan ramah lingkungan.
Keberhasilan Tidak Lagi Diukur dari Tonase Panen
“Keberhasilan tidak lagi diukur dari tonase panen per siklus semata, tetapi dari kemampuan tambak untuk berproduksi secara konsisten dalam jangka panjang,” ujar Kristina, Product Manager PT Sinar Hidup Satwa (SHS).
Dalam paradigma ini, teknologi dan probiotik tidak lagi dipandang sebagai alat peningkat produksi semata, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga ketahanan ekosistem tambak. Dengan pendekatan yang tepat, produktivitas dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak tambak yang awalnya produktif akhirnya mangkrak. Penyebab utamanya adalah eksploitasi berulang tanpa pemulihan ekologis yang memadai. Setiap siklus budidaya meninggalkan residu biologis dan kimia—mulai dari sisa pakan, feses udang, hingga senyawa dari perlakuan manajemen—yang tidak seluruhnya terolah dengan baik. Akumulasi ini menurunkan kualitas sedimen dan air hingga pada titik tertentu tambak kehilangan daya dukungnya.
Kesalahan Umum dalam Pemulihan Tambak
Menurut Kristina, kesalahan yang sering terjadi saat memulihkan tambak rusak adalah kecenderungan untuk mencari hasil instan. Penggunaan bahan kimia atau penggantian produk tanpa memperbaiki akar masalah ekologi hanya akan meredakan gejala sesaat, sementara kerusakan sistem tetap berlangsung.
Pemulihan yang efektif seharusnya berfokus pada perbaikan struktur ekosistem, termasuk keseimbangan mikrobiologi dan pengelolaan limbah. Tanpa pendekatan ini, tambak akan terus berada dalam siklus rusak–pulih–rusak kembali.
Bioteknologi Berbasis Ekosistem
“Sejatinya, tambak yang rusak secara ekologis bukan hanya kehilangan produktivitas, tetapi juga kehilangan homeostasis biologisnya,” jelas Rico Wisnu Wibisono, CEO FisTx.
Homeostasis ini mencakup keseimbangan halus antara mikroba, plankton, oksigen, dan substrat dasar tambak.
Kerusakan tambak umumnya dipicu oleh empat faktor utama:
akumulasi bahan organik berlebih,
ledakan fitoplankton (blooming),
kontaminasi logam berat dan antibiotik, serta
degradasi biofilm alami yang berperan menjaga stabilitas ekosistem.
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan bioteknologi berbasis ekosistem menjadi satu-satunya jalan berkelanjutan untuk benar-benar “menyembuhkan” tambak, bukan sekadar memperbaiki tampilannya.
Beberapa contoh pendekatan ini meliputi bioremediasi, elektrolisis air, sinar UV-C, serta sinergi UV dan elektrolisis.
Bioremediasi: Mengaktifkan Kekuatan Mikroorganisme
Bioremediasi memanfaatkan mikroorganisme alami untuk memecah limbah organik, amonia, nitrit, dan bahan kimia toksik. Studi menunjukkan bahwa bioremediasi mampu meningkatkan efisiensi ekosistem hingga 65–80% dalam waktu 4–6 minggu dengan memanfaatkan konsorsium bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi.
Bakteri seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter berperan mengoksidasi amonia menjadi nitrat, sementara Bacillus subtilis dan Pseudomonas putida efektif dalam degradasi bahan organik. Adapun Rhodobacter sphaeroides membantu memulihkan kondisi redoks dasar tambak.
Namun, bioremediasi alami sering kali tidak cukup cepat untuk menghadapi beban polusi modern. Di sinilah teknologi fisika–kimia berperan sebagai katalis pemulihan.
Elektrolisis Air: Oksidasi Presisi Tanpa Residu

Teknologi elektrolisis menghasilkan oksidan kuat seperti hipoklorit, ozon mikro, dan radikal hidroksil (•OH) yang memiliki potensi oksidatif tinggi tanpa meninggalkan residu berbahaya. Elektrolisis mampu mengoksidasi bahan organik berat, menghancurkan biofilm patogen seperti Vibrio harveyi, serta membantu presipitasi logam berat.
Pendekatan ini menjadikan air bukan sekadar media budidaya, tetapi bagian aktif dari sistem pemulihan ekosistem—air “mengobati” dirinya sendiri melalui energi listrik.
Sinar UV-C: Disinfeksi Tanpa Bahan Kimia

Sinar UV-C (254 nm) bekerja dengan merusak DNA dan RNA mikroorganisme patogen sehingga menghentikan replikasinya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sistem UV yang dikombinasikan dengan filtrasi partikel halus mampu menurunkan infeksi Vibrio hingga hampir 100% dalam waktu singkat.
Selain itu, UV juga menstimulasi proses oksidasi fotokatalitik alami yang mempercepat degradasi senyawa organik kompleks di dalam air tambak.
Sinergi UV dan Elektrolisis
Kombinasi UV dan elektrolisis membentuk sistem sinergistik yang meningkatkan ORP (Oxidation Reduction Potential), menghancurkan biofilm patogen, dan mensterilkan air tanpa tambahan bahan kimia.
Secara ekologis, sistem ini membangun tiga lapis pertahanan:
lapisan biologis melalui bioremediasi,
lapisan fisika-kimia melalui oksidasi radikal bebas, dan
lapisan fotonik melalui inaktivasi DNA patogen.
Pendekatan berlapis ini menjadikan biosekuriti lebih stabil dan terukur, terutama pada sistem RAS, semi-tertutup, maupun tambak intensif modern.
Ramah Sejak dari Hulu Masalah
Menurut Ahmad Fikri Umam Halim, Product Executive Aquaculture PT Agroveta Husada Dharma, pengurangan limbah harus dimulai dari hulu dan hilir. Mulai dari pakan—melalui penggunaan enzim seperti fitase dan protease—hingga aplikasi probiotik rutin di air untuk mengkonversi limbah organik menjadi biomassa bakteri yang aman.
Penggunaan auto feeder memastikan ketepatan dosis dan waktu pemberian pakan, menurunkan FCR, dan mengurangi beban limbah dasar tambak. Pendekatan ini membuktikan bahwa teknologi sederhana pun dapat menjadi jembatan antara efisiensi ekonomi dan ekologi.
Menuju Budidaya Udang Berkelanjutan
Budidaya udang berkelanjutan tidak menuntut teknologi yang rumit atau mahal, tetapi membutuhkan penempatan teknologi pada peran yang tepat. Bioremediasi, UV, dan elektrolisis bukan pengganti alam, melainkan alat bantu untuk mengembalikan keseimbangan yang telah terganggu.
Kembali ke fitrah berarti menghormati daya dukung lingkungan, membaca sinyal ekosistem, dan menyesuaikan manajemen secara adaptif. Dengan pendekatan ini, tambak tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga ekosistem hidup yang mampu menopang masa depan industri udang Indonesia secara berkelanjutan.


