
Peningkatan Produksi Udang: Strategi Serta Peluang Ekspor 2025
Yogyakarta, 19 Maret 2025 – Setelah sukses dengan webinar sebelumnya, WEBINAR OMBAK kembali hadir dengan tema “Meningkatkan Hasil Panen Tambak yang Berkelanjutan untuk Memenuhi Tren Permintaan Udang di Pasar Domestik dan Global 2025”. Acara ini menarik lebih dari 300 peserta dari berbagai kalangan, termasuk petambak, akademisi, dan praktisi industri.
Topik kali ini memang topik yang pastinya telah menjadi perhatian para pelaku industri udang. Dua aspek utama—produksi udang maksimal dan peluang pasar—harus berjalan seimbang. Tanpa strategi budidaya yang tepat, peningkatan produksi udag bisa menjadi sia-sia. Begitu pula sebaliknya, peluang pasar tanpa produksi udang yang berkualitas akan menjadi hambatan bagi industri.
Hal inilah yang membuat FisTx Kembali mengadakan WEBINAR OMBAK ke-4 dan menghadirkan pakar industri akuakultur serta Kementerian Perdagangan Republik Indonesia untuk membahas tantangan ini secara komprehensif.
Menjawab Tantangan Pasar Udang Indonesia dan Global 2025
Fujiyanti dari Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer, Kementerian Perdagangan, memaparkan bahwa udang merupakan komoditas ekspor unggulan ekspor Indonesia dengan nilai ekspor mencapai 1,39 Juta USD pada tahun 2024, meningkat 6,8% dari tahun sebelumnya. Namun, tren ekspor dalam lima tahun terakhir (2020-2024) menunjukkan penurunan sekitar 5,47%.

Salah satu tantangan ekpor udang Indonesia adalah penurunan permintaan udang di dua negara tujuan utama Indonesia yaitu Amerika dan Jepang. Kondisi permintaan pasar udang dari kedua negara tersebut mengalami penurunan pada tahun 2019-2023 sebanyak -25,03% (Amerika) dan -20,68% (Jepang).
“Melambatnya market demand dari Amerika Serikat dan Jepang ini patut kita waspadai mengingat ekspor udang Indonesia masih didominasi kedua negara tersebut…, namun kami tetap mengimbau untuk pelaku usaha industri udang untuk tetap optimis,” ujar Fujiyanti.
Hal inilah yang mengindikasikan perlunya strategi baru untuk peningkatan daya saing ekspor udang dan produk udang. Fujiyanti menjelaskan beberapa poin strategi peningkatan ekspor diantara yang paling utama adalah strategi penjaminan mutu, kemanan, dan ketelurusan produk udang.

Beliau menyatakan bahwa pelaku industri udang harus dapat memperkuat standarisari dan sertifikasi baik proses maupun produk yang sesuai dengan persyaratan global, serta harus medorong adanya pengelolaan yang ramah lingkungan. Maka karena itu diperlukan kolaborasi seluruh stakeholder perikanan.
Fujiyanti juga menjelaskan mengenai strategi menghadapi berbagai tantangan berupa kebijakan ekspor-impor dari berbagai negara serta hambatan perdagangan lain dengan melakukan perundingan antar negara.
“Ini juga yang dilakukan Kementerian Perdagangan untuk menginisiasi atau melakukan perundingan atau kerjasama dengan negara-negara lain untuk mengurangi hambatan baik tarif atau non-tariff sehingga produk udang kita bisa masuk dengan tarif 0%, yang kita harapkan produk kita bisa memiliki daya sainng yang tinggi dari negara lain” tegasnya
Teknologi Budidaya untuk Efisiensi Produksi Udang
Dalam kesempatan ini Rico Wibisono selaku COO FisTx Indonesia menjelaskan cara dalam meningkatkan hasil panen tambak yang berkelanjutan untuk memenuhi pasar domestik dan global yaitu pemilihan pakan, pilih sistem budidaya yang tepat, pemilihan benur, dan pemilihan sarana dan prasarana tambak yang tepat terutama pemilihan teknologi yang tepat.
Rico juga memaparkan berbagai teknologi inovatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi tambak udang dengan cost yang seminimal mungkin. Diantaranya penggunaan teknologi UV, menjelaskan mengenai keunggulan proses disinfeksi air tambak menggunakan ultraviolet (UV) yang lebih ekonomis dan praktis. Sistem UV dinilai dapat membunuh patogen hingga 99% dengan proses yang lebih cepat dan dapat menekan menekan biaya operasional hingga 83,3%.

Ia juga memperkenalkan penerapan sistem RAS (Recirculating Aquaculture System) di berbagai negara yang sudah terbukti membawa efek yang baik pada produksi, bukan hanya itu penerapan teknologi nano yang dikembangkan oleh FisTx juga diperkenalkan, teknologi ini memiliki kemampuan dalam proses disinfeksi yang langsung hingga titik DNA, dan costnya cukup yaitu Rp 160-32-/m3 dan tidak berpengaruh terhadap udang.
Semua teknologi yang disarankan dan dipaparkan merupakan eknologi yang dapat membantu petambak dalam mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya, menjaga kualitas air, dan meningkatkan produktivitas udang.
“teknologi budidaya udang itu hadir untuk mencegah resiko budidaya dan menurunkan cost opersiaonal budidaya untuk budidaya yang berkelanjutan” Ujar Rico Wibisono
Deteksi Dini Penyakit dan Strategi Peningkatan Produksi Udang
Hasanuddin Atjo, Pakar dan Praktisi udang memaparkan isu industri udang nasional diantaranya ada penyakit udang, harga pokok produksi makin tinggi, mutu udang lebih rendah.
Atjo menjelaskan bahwa masalah penyakit sebagian besar dikarenakan 50%-60% benur yang beredar dalam kondisi tidak sehat, maka karena itu perlu adanya deteksi dini pada benur yang ditabur dan pemantauan regular terhadap kualitas air dan udang selama proses budidaya berlangsung sangatlah penting.
Atjo juga menambahkan bahwa strategi untuk peningkatan produksi udang dapat dilakukan dengan pengembangan sistem nursery (two-step), yang telah terbukti meningkatkan produktivitas secara signifikan dibandingkan metode konvensional. Dengan pendekatan ini, produksi udang bisa mencapai 145 ton per hektar, jauh lebih tinggi dibandingkan tambak konvensional yang hanya 78 ton per hektar. Ia juga menyoroti pentingnya klasterisasi industri udang untuk mengoptimalkan rantai pasok dan menekan biaya produksi.
Selain itu, ia menyoroti penerapan teknologi yang tepat untuk dapat membuat budidaya Two Step yang ideal, seperti penggunaan tandon, filter, teknnologi UV, dan lainnya. Penerapan ini digunakan untuk dapat menjaga kualitas air yang merupakan aspek yang paling penting.

“Bagaimana kita melakukan penangkaran awal, bahwa air itu sangat penting untuk suksesnya budidaya, ini juga pastinya menjadi pertanyaan bagi para peserta bahwa ini pasti mahal dan ribet ya, jadi saya kira memang bicara hasil yang bagus tentunya membutuhkan investasi baik dalam bentuk material maupun teknologi “ ujar Hasanuddin Atjo
Ketiga pembicara Webinar OMBAK ke-4 ini menegaskan bahwa industri udang Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang jika didukung oleh inovasi teknologi dan strategi manajemen yang tepat. Dengan implementasi teknologi dan manajemen tambak yang tepat, diharapkan industri perikanan nasional dapat terus berkembang dan memenuhi kebutuhan ekspor yang semakin meningkat. (FisTx/AR)
Link Webinar OMBAK ke-4: WEBINAR OMBAK (OBROLAN TAMBAK) #4 “MENINGKATKAN HASIL PANEN TAMBAK YANG BERKELANJUTAN”