fistxpedia

FisTx Indonesia dan Departemen Perikanan (Fakultas Pertanian) UGM Jalin Kerja Sama Strategis untuk Dorong Inovasi Akuakultur Berbasis Teknologi

FisTx | WriterDiunggah 06 Mei 2026

Yogyakarta, 5 Mei 2026 — FisTx Indonesia resmi menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Gadjah Mada melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama Fakultas Pertanian, khususnya Departemen Perikanan. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pengembangan teknologi dan inovasi berbasis riset untuk sektor budidaya perikanan nasional.

Penandatanganan MoU dilaksanakan pada Selasa, 5 Mei 2026, bertempat di Fakultas Pertanian UGM, dan akan berlangsung selama lima tahun ke depan. Acara ini dihadiri oleh CEO FisTx Indonesia, Rico Wisnu Wibisono, Kepala Departemen Perikanan UGM Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, serta Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D..

 

 

Kolaborasi Riset, Pendidikan, dan Implementasi Teknologi

Kerja sama ini mencakup tiga pilar utama, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Pada aspek pendidikan, FisTx membuka peluang Program Magang Berdampak bagi mahasiswa Departemen Perikanan UGM untuk terlibat langsung dalam proyek industri.

Di bidang penelitian, kolaborasi difokuskan pada riset bersama antara Departemen Perikanan UGM dan divisi R&D FisTx, termasuk implementasi teknologi pada kolam budidaya milik kampus dan kawasan Pusat Inovasi Agroteknologi UGM (PIAT UGM). Pendekatan ini memungkinkan pengujian teknologi secara langsung dalam kondisi nyata.

 

 

Mendorong Inovasi Teknologi untuk Akuakultur Modern

Melalui kerja sama ini, kedua pihak menargetkan pengembangan produk dan teknologi berbasis riset yang didukung oleh data lapangan. Fokus utama diarahkan pada inovasi berbasis nano teknologi sebagai solusi masa depan untuk meningkatkan produktivitas budidaya dengan biaya yang tetap terjangkau.

Dalam implementasinya, teknologi FisTx seperti Baskara UV, Cakra Elektrolisis, Antasena Microbubble, hingga lini Aqua Support berbasis nano teknologi (Nano Silver & Nano Disinfektan) akan digunakan sebagai platform utama pengujian dan pengembangan.

“Pendekatan berbasis riset dan teknologi menjadi kunci dalam budidaya perikanan modern karena memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih akurat, meningkatkan efisiensi produksi, serta menghasilkan solusi yang teruji, terukur, dan dapat direplikasi secara luas untuk mendukung keberlanjutan industri,” ujar Rico Wisnu Wibisono.

 

 

Sinergi Industri dan Akademisi untuk Inovasi Berkelanjutan

Kolaborasi ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara industri dan akademisi dalam mendorong kemajuan sektor akuakultur.

“Kolaborasi antara industri dan akademisi menjadi kunci dalam mendorong inovasi akuakultur yang relevan dan aplikatif, dengan mengintegrasikan kekuatan riset ilmiah dan pengalaman lapangan untuk menghasilkan solusi yang teruji, efisien, dan berdampak langsung bagi sektor perikanan nasional,” ungkap Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo

 

 

Model Kolaborasi Berbasis Implementasi Nyata

Kerja sama ini akan dijalankan melalui berbagai skema implementatif, antara lain:

  • Program Magang Berdampak bagi mahasiswa

  • Riset kolaboratif berbasis data lapangan

  • Pilot project tambak sebagai “living lab”

  • Seminar dan workshop untuk transfer pengetahuan

Selain itu, kedua pihak juga akan mengembangkan teknologi secara bersama (co-development), mulai dari pengembangan prototipe hingga penyempurnaan produk melalui iterasi berbasis data. Pendekatan ini memungkinkan percepatan dari riset menuju implementasi di industri.

 

 

Dampak Nyata untuk Petambak dan Industri Nasional

Kerja sama ini diharapkan memberikan dampak langsung bagi petambak melalui akses terhadap teknologi yang teruji, peningkatan produktivitas, serta pendampingan berbasis riset. Di sisi lain, kolaborasi ini juga memperkuat ekosistem industri perikanan nasional dengan mempercepat lahirnya inovasi yang aplikatif dan berkelanjutan.

Dengan memadukan kekuatan riset akademik dan teknologi industri, FisTx dan UGM optimistis kolaborasi ini dapat menjadi model pengembangan akuakultur modern di Indonesia, sekaligus berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan menuju Indonesia Emas.