
Menyongsong 2026: Strategi 5 Pilar untuk Penguatan Industri Udang Nasional yang Berdaya Saing Global

Industri udang Indonesia tengah berada di ambang transformasi besar. Sinyal pemulihan ekonomi di tahun 2026 membawa peluang sekaligus standar baru yang lebih ketat. Untuk memenangkan persaingan global, para pelaku industri tidak lagi bisa mengandalkan metode konvensional. Dibutuhkan kalibrasi SOP yang presisi, penguatan monitoring, dan adopsi teknologi yang mampu menekan biaya operasional sekaligus menjaga kualitas.
Dikutip dari pernyataan Dr. Hasanuddin Atjo melalui kanal berita Metro Sulteng, berikut adalah 5 pilar strategis yang akan menentukan keberlanjutan tambak udang Indonesia ke depan:
1. Benur: Investasi pada Genetik dan Mutu Tinggi

Keberhasilan siklus budidaya dimulai dari titik nol, yaitu pemilihan benur. Banyak kegagalan di lapangan saat ini berakar pada penggunaan benur dengan kondisi kesehatan dan genetik yang tidak jelas.
- Standardisasi SPF/SPR: Benur wajib memiliki sertifikat Specific Pathogen Free (SPF).
- Karakteristik Terukur: Fokus pada benur yang memiliki performa pertumbuhan cepat dan daya tahan yang konsisten.
Monitoring Hulu: Kalibrasi SOP di level hatchery sangat mendesak untuk memastikan benur yang sampai ke petambak adalah bibit unggul, guna menekan kegagalan produksi sejak dini.
2. Sterilisasi Air: Transisi ke Teknologi Ramah Pasar Global
Salah satu tantangan terbesar ekspor udang adalah isu residu kimia. Buyer internasional kini mulai meninggalkan udang yang diproses dengan kaporit atau klorin. FisTx Indonesia telah menghadirkan solusi sterilisasi modern melalui teknologi Cakra Elektrolisis dan Baskara UV yang lebih ramah pasar dan ramah lingkungan.

Cakra Elektrolisis (Eco-Friendly Disinfection): Menggunakan teknologi electrochemical oxidation untuk menghasilkan air berkualitas tinggi tanpa bahan kimia.
- Performa: Mampu menurunkan 99% bakteri patogen (seperti Vibrio) dan menguraikan Amonia (NH3) secara efektif.
- Efisiensi Biaya: Dibandingkan kaporit, sistem ini 89% lebih hemat. Biaya sterilisasi hanya sekitar Rp 134/m³, berbanding jauh dengan kaporit yang mencapai Rp1.200/m³.
Baskara UV: Memanfaatkan panjang gelombang 253.7 nm untuk membasmi virus dan mikroba secara instan.
- Daya Tahan: Lampu UV-C berkualitas dengan umur pakai hingga 12.000 jam.
- Keunggulan: Bebas residu kimia, menjaga parameter air tetap stabil, dan sangat efektif memutus rantai penyakit.

3. Sistem Budidaya: Implementasi Two-Step Nursery
Penerapan sistem budidaya dua tahap (two-step nursery) menjadi keharusan untuk meminimalkan risiko penyakit di kolam pembesaran (grow-out).
- Deteksi Dini: Benur harus melalui pemeriksaan kesehatan ketat sebelum masuk ke fase nursery.
- Monitoring Berlapis: Udang harus dipastikan 100% sehat sebelum dipindahkan ke kolam pembesaran. Jika terdeteksi penyakit pada tahap awal, proses harus dihentikan atau dikelola secara khusus. Strategi ini terbukti efektif mengurangi risiko kegagalan panen massal secara signifikan.

4. Manajemen Lingkungan: Paradigma Baru IPAL vs Tandon
Di masa depan, pengelolaan limbah adalah kunci keberlanjutan. Konsep manajemen air harus berubah: Rasio luas IPAL harus lebih besar daripada tandon.
- Efisiensi Lahan: Berkat teknologi sterilisasi modern seperti Cakra yang mampu mengolah air masuk dengan debit tinggi (hingga 200 m³/jam), kebutuhan lahan untuk tandon penampungan dapat ditekan.
- Keberlanjutan Ekosistem: IPAL yang mumpuni menjadi benteng utama untuk memastikan air buangan kembali ke alam dalam kondisi bersih, sehingga sumber air sekitar tidak rusak dan tetap bisa digunakan untuk siklus budidaya jangka panjang.

5. Mutu Pasca Panen: Kecepatan Menentukan Nilai Jual
Permasalahan klasik industri kita adalah penurunan mutu udang di tahap pascapanen. Udang kualitas premium dari tambak seringkali kehilangan nilainya karena proses yang lambat.
- Standardisasi SOP: Udang harus segera didinginkan, sesaat setelah keluar dari air, masuk ke dalam box, dan segera dikirim ke pabrik pengolahan.
Hindari Sortasi Lama: Proses sortasi yang terlalu lama di suhu ruang dapat merusak tekstur dan kesegaran udang. Menjaga rantai dingin (cold chain) adalah kunci utama agar harga jual udang tetap maksimal di tingkat pabrik.
Kesimpulan
Menuju 2026, kalibrasi SOP, penguatan monitoring berbasis data, dan adopsi teknologi ramah lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak untuk bertahan. Dengan teknologi seperti Cakra Elektrolisis dan Baskara UV, petambak tidak hanya mampu menghasilkan udang yang sehat, tetapi juga mencapai efisiensi biaya yang luar biasa untuk bersaing di pasar global.


